Loading...

Rabu, 22 September 2010

Jerami Fermentasi Pakan Sapi Alternatif


Jerami Fermentasi Pakan Sapi Alternatif
Oleh : I Ketut Darmawan, S.Pt *

Dilahan pertanian, limbah pertanian berupa jerami selama ini menjadi “barang” buangan  yang disingkirkan melalui dibakar. Limbah jerami menjadi halangan petani saat melakukan pengolahan tanah. Dengan Teknologi EM, limbah pertanian bisa digunakan pakan sapi yang memiliki kualitas gizi baik.

Potensi pengembangan ternak ruminansia di Bali utamanya ternak sapi sangatlah besar. Berdasarkan data dari Dinas Peternakan Provinsi Bali, populasi ternak sapi Bali Tahun 2008 mencapai 668.065 ekor. Dari jumlah itu, 74.995 ekor dikirim ke Jakarta (sapi antar pulau). Sisanya, 36.853 ekor untuk menyuplai kebutuhan lokal Bali.
Dibalik besarnya potensi ternak sapi Bali, para peternak dihadapkan pada ketersediaan pakan ternak sepanjang masa. Dipihak lain, lahan pengembangan Hijauan Makanan Ternak (HMT) kian terbatas seiring dengan tingginya alih fungsi lahan pertanian.
          Kebutuhan HMT harian bagi ternak ruminansia minimal 10 % dari berat hidupnya. Seekor sapi berbobot 250 kg, memerlukan HMT minimal 25 kg perhari. Agar ternak bisa tumbuh dan berproduksi dengan baik, jumlah HMT yang diberikan harus melebihi kebutuhan minimal diatas. Fakta lapangan menunjukkan, untuk bisa memenuhi kontinyuitas HMT sepanjang musim, seekor sapi Bali dengan bobot minimal 200 kg membutuhkan lahan HMT seluas 5 are. Artinya, untuk memelihara 10 ekor sapi Bali, anda harus menyiapkan lahan HMT seluas 50 are. Untuk bisa menopang kebutuhan pakan sapi, lahan HMT harus dipupuk secara kontinyu dengan pupuk bokashi.
          Melihat analisa diatas, tanpa menggunakan teknologi pakan yang baik, investasi awal yang diperlukan untuk memelihara sapi  sangatlah besar. Menjawab permasalahan ini peternak harus menerapkan sistem beternak intensif. Sistem beternak intensif salah satunya ada diperlakuan pemberian pakan. Pakan pilihan yang diberikan bisa dalam bentuk konsentrat sapi, limbah perkebunan, limbah pertanian dan limbah pasar (sisa sayur dan dedaunan).
          Jerami adalah limbah pertanian yang umumnya dimanfaatkan oleh peternak sebagai pakan sapi tat kala musim paceklik datang (kemarau). Umumnya, pemberian jerami tidaklah melalui proses fermentasi, sehingga nilai gizinya rendah. Serat kasar jerami sangatlah tinggi yaitu kisaran 30-45 %. 

Jerami Fermentasi
       Melihat tingginya serat kasar jerami dan rendahnya protein kasar (3 – 4 % ) maka sebagai pakan sapi, jerami perlu dilakukan fermentasi. Dari hasil  Proximate Analysis, di Laboratorium Nutrisi Ternak, Fakultas Peternakan UNUD, jerami yang difermentasi dengan EM4 terjadi peningkatan protein kasar. Protein kasar jerami dari 3,50 % naik menjadi 7,05355, serat kasarnya dari 35,0 % turun menjadi 25,5949. Kesimpulannya, setelah difermentasi terjadi peningkatan protein kasar sebesar  4,05355 %. dan penurunan serat kasar sebesar 4,405075 %.

Membuat Jerami Fermentasi  (untuk 1 ton jerami)
Alat-alat :
-        Cangkul bergigi
-        Ember/tong kapasitas 50 liter
-        Gayung
-        Terpal plastik ukuran 6 x 5 meter
-        Sprayer
Bahan-bahan
-        Dedak padi halus 25 kg
-        EM4 ternak 2 liter
-        Molasses (tetes tebu) 5 liter
-        Air sumur
Cara membuat :
1.     Lakukan inokulum bakteri dengan cara mencampur EM4 2 liter + Molase 5 liter ke dalam air sumur sejumlah 50 liter.
2.     Tutup dan diamkan campuran tersebut selama 24 jam
3.     Bila telah difermentasi selama 24 jam campuran diatas siap digunakan ditandai dengan timbulnya jamur putih pada bagian atas permukaan air.
4.     Tebarkan jerami ditempat teduh dan kering setinggi 10 cm, sedikit demi sedikit,  taburkan dedak secara merata pada permukaan jerami.
5.     Semprotkan larutan EM4 secara merata hingga kadar air dalam jerami mencapai 30 %.
6.     Bila telah merata, tebarkan kembali jerami sesuai dengan petunjuk poit 4 hingga mencapai tinggi 1 meter.
7.     Bila tinggi tumpukan mencapai 1 meter, tutup rapat-rapat jerami dengan terpal.
8.     Lakukan pemantauan suhu fermentasi (suhu gundukan maksimum 500 c. Bila suhunya lebih dari 500 C,  maka terpal dibuka dan diamkan selama 30 menit.
9.     Bila suhu terlalu panas maka tumpukan sebaiknya dibongkar.
10.            Dalam waktu 7-10 hari jerami telah mengalami proses  fermentasi yang ditandai dengan tumbuhnya jamur putih dipermukaan jerami.
11.            Bongkar dan diangin-anginkan gundukan jerami sebelum disimpan ditempat teduh dan kering.
12.            Berikan jerami yang telah diangin-anginkan pada ternak sapi sekitar 8-12 kg/hari.
Pemberian jerami fermentasi bukanlah pakan utama melainkan hanya pakan sampingan yang jumlahnya 45-50 % dari total pemberian pakan harian. Di lapangan, pakan jerami fermentasi dikombinasikan dengan rumput segar dan dedak gandum/padi, dihasil pertumbuhan berat hidup sapi rata-rata 0,4-0,5 kg/ekor/hari. Selain jenis pakan, peningkatan berat hidup sapi juga dipengaruhi oleh potensi genetik.

*penulis adalah alumnus Fakultas Peternakan Unud Th. 2002


         




1 komentar:

  1. where is the science behind your claims.
    i have never read so much unsubstantiated nonsense in my life.
    your claims will cause poisoning of cattle, and abortions.
    Manures don't need your EM4 it is already loaded with the bacteria that is necessary for making compost.
    you are relying on poor, uneducated farmers to make your fortune. Peddling snake oil, something that has no value except to put money into your pocket.
    please find an honest way to make a living.

    BalasHapus